Daftar Isi
- Kenapa kita hidup?
- Apa tujuan dari hidup?
Pernah bertanya dua pertanyaan di atas? Yang satu adalah tentang makna/arti (apa & kenapa), dan satunya lagi tentang tujuan (mau ke mana).
Beberapa orang mungkin balik nanya, “Kalau misalnya belum terjawab, emang harus bunuh diri gitu?”
Entah ya. Buat gua, kalau emang ga ada makna & tujuannya, hidup itu ya artinya buat kesenangan masing-masing aja. Ga perlu ‘bunuh diri’ dong? Nikmati aja apa yang bisa dinikmati di depan mata. Iya enggak?
Masuk akal, tapi sayangnya, ga masuk hati. Pandangan seperti ini bakal bikin gua ga mau punya anak. Kasihan anak gua lahir ke dunia yang menyeramkan, tempat mayoritas orang cuma peduli sama kesenangan pribadi masing-masing:
- Bagaimana kalau anak gua nanti ketemu orang, yang emang senengnya merendahkan / menyiksa / menyulitkan orang lain? Banyak lho, kasus kayak gini. Pelakunya sih, biasanya ga sadar & punya pembenarannya sendiri.
- Sayangnya, misalpun tidak pernah bertemu orang jahat, hidup isinya memang bukan kesenangan aja. Ada penderitaan dan juga kesepian/kehampaan — yang jenis serta kadarnya tentu beda-beda tiap orang. Kalau ga ada makna & tujuan, misal anak gua kebetulan hidupnya sangat menderita (kena penyakit parah misalnya), dia bakal gua anjurkan untuk bunuh diri aja gitu? Ya enggak lah!
Buat gua, adanya makna & tujuan hidup akan:
- Mengalihkan gua dari sekedar mencari kenikmatan pribadi (yang bisa banget menyakiti orang lain tanpa gua sadari).
- Bikin gua lebih kuat menghadapi penderitaan hidup. Sebagaimana bayangan akan enaknya nongkrong di puncak gunung (makna & tujuan), yang membuat gua mau capek-capek nanjak berjam-jam bawa tas super berat (penderitaan).
Kenapa ga mencari makna & tujuan hidup dari agama?
Eit.. sebentar.
- Gua puas 100% sama makna & tujuan hidup dari agama yang gua imani (Islam).
- Dan justru, dari Islam-lah gua dapat petunjuk buat menemukan makna & tujuan hidup yang lebih universal (maksudnya ‘universal’ di sini berarti ‘tidak perlu meyakini sebuah agama/ideologi tertentu dulu’).
Universal ini menurut gua penting. Banget. Kenapa? Karena jadi bisa diterima oleh mayoritas orang (ga cuma penganut suatu agama/ideologi doang). Kalau makna & tujuan hidup dua orang selaras, mereka jadi selangkah* lebih mudah untuk berempati (karena satu makna) & bekerja sama (karena satu tujuan). *Selangkah doang sih ini yaa.. Masih bisa cek-cok juga nantinya. Tapi, ya, mendinglah selangkah; Dari pada ga ada kesamaan sama sekali. Wkwkwk.
Pada akhirnya, ternyata, makna & tujuan hidup universal yang gua temukan, justru membenarkan sebagian dari makna & tujuan hidup yang agama gua ajarkan. Sebagian sisanya? Tidak ditentang sama sekali oleh si versi universal ini. Jadi bukannya menyimpang ini, 100% selaras kok.
Mungkin ada yang penasaran, inspirasi apa sih yang gua dapat dari Islam? Ada beberapa. Utamanya adalah dari ayat al-Quran yang semua muslim harus lafalkan minimal 17 kali, dari subuh sampai malam, setiap hari:
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Al-Qur’an, Al-Fatihah, ayat 5-7.
Ada dua hal yang menarik yang gua temukan:
- Bukan ‘tunjukilah saya‘, tapi ‘tunjukilah kami‘.
- Bukan ‘jalannya orang yang diberi nikmat’, tapi ‘jalannya orang-orang yang diberi nikmat’.
Artinya apa? Setelah meminta pertolongan ke Tuhan, muslim harus secara berjama’ah alias bersama-sama mencari, mempelajari, lalu (seharusnya) meniru kebiasaan hidup sekolompok orang yang sudah terbukti mendapatkan kenikmatan. Nikmat berjama’ah yang mana dulu nih? Pastinya bukan semacam nikmat pesta seks atau pesta narkoba. Ya, karena nikmat sesaat seks & narkoba seringnya berujung ke penderitaan jangka panjang bagi diri pelaku & keluarga mereka. Kalau ending-nya banyak penderitaan, kenikmatan di awalnya jadi sia-sia dong ya?
Catatan penting: Tujuan hidup versi Islam bukan terbatas di “enak bareng” seperti yang dijelaskan di atas. Namun, jelas terlihat dari surat al-Fatihah, meriset & mengejar “enak bareng” idealnya adalah salah satu kegiatan sehari-hari orang-orang muslim.
Selanjutnya mari kita lihat, jika kita keluar sebentar dari sumber yang harus diimani terlebih dahulu (seperti kitab suci), dan hanya mengacu dari sumber yang universal (alias mudah diterima semua orang), apakah benar “enak bareng” masih valid sebagai tujuan hidup? Apakah benar “enak bareng” bisa jadi salah satu poin pemersatu orang-orang lintas bangsa, agama, dan bahasa?
Alur proses pencarian gue, atas makna & tujuan hidup yang universal adalah seperti ini:
- Mencari ‘makna’:
- Menjawab ‘siapa & apa kita‘ hanya dengan fakta.
- Mencari pola dari dari fakta-fakta di atas โ yang semoga polanya mudah diterima oleh kebanyakan orang.
- Lalu, mencari ‘tujuan’:
- Menggunakan pola atas jawaban ‘siapa & apa kita‘, untuk menjawab ‘apa yang harus kita lakukan sekarang‘ & ‘mau ke mana kita di masa depan‘ ?
Tarik napas… Hembuskan… Mari kita mulai.
Makna hidup (manusia) yang universal.
Tips: coba mulai cari pola-pola yang muncul saat memahami rentetan fakta-fakta di bawah.
Siapa kita? Apa sih ‘manusia’ itu?

Manusia (kita) adalah sekumpulan sel yang sedang bekerja sama. Terganggu sedikit kerja sel-selnya, manusianya sakit. Berhenti bekerja sama, manusianya mati.
Itu jawaban yang paling universal (alias ‘paling bisa diterima oleh semua orang di seluruh dunia’). Kok bisa? Ya karena, jawaban itu tidak ada unsur opini / pendapat / karangannya sama sekali. Murni berdasarkan pengamatan nyata lewat mikroskop. Hard fact alias fakta keras. Yang menyangkal akan dianggap gila.
Apakah ada satu atau beberapa sel yang jadi bos dari semua sel lainnya? Tidak ada. Artinya, kita ini, adalah benar-benar sekumpulan sel yang bekerja sama. Memang sih, ada sel-sel yang hidup di area-area yang vital (otak misalnya), ada juga yang hidup di area yang tidak vital (jari kelinging atau usus buntu). Namun, tetap saja, di daerah yang vital tersebut (otak, jantung, lambung), tidak ada satu / sekelompok kecil sel yang jadi bos / pengatur sel lainnya. Artinya, di level sel, mereka semua bekerja sama secara independen & setara.
Ok. Kita sepakat, manusia itu terdiri dari sel yang setara. Bahkan, sebelum jadi puluhan triliun sel, kita hanyalah satu sel kecil yang tidak terlihat mata (sel telur ibu yang baru saja mendapat donasi molekul gen sel sperma ayah).
Berarti, ‘sel’ memegang peranan penting nih โ layak untuk dipahami, kalau kita mau mencari tahu apa ‘makna’ / ‘arti’ hidup manusia. Sebagaimana, untuk memahami ‘hutan’, kita perlu terlebih dahulu paham apa itu ‘tumbuhan’.
So, lanjuuut…
Apa sih ‘sel’ itu?

Sel adalah unit kehidupan terkecil.
- ‘Hidup’ karena setiap sel bisa:
- menyerap energi dari luar (versi kita: makan),
- membuang sisa metabolisme (buang air / napas / kentut),
- memperbaiki kerusakan internal (istirahat),
- menangani protein asing berbahaya yang menyelusup ke dalam sel (sistem imun),
- berkomunikasi dengan sel-sel tetangga (ngegosip),
- mati karena umur,
- dan memperbanyak diri (ada yang lewat membelah diri, ada juga yang melakukan hubungan seks dengan sel lain).
- ‘Terkecil’ karena kegiatan-kegiatan kehidupan seperti yang dijabarkan di atas, tidak akan dilakukan organ-organ penyusun sel (contoh: nukleus, mitokondria, lisosom) jika kulit sel dirobek dan mereka terpisah. Singkatnya, “bercerai, mereka mati; bersatu (sebagai satu sel), mereka hidup”.
Menarik bukan? Masih banyak lho, kesamaan antara sebuah sel & seorang manusia (akan dipos di channel ini, subscribe). Tapi karena tujuan kita sekarang adalah mencari ‘makna’ hidup manusia, mari fokuskan diri ke memahami, terbuat dari apa sih sebenarnya sel itu.
Di antara organ-organ penyusun sel, membran (kulit) sel adalah yang paling sederhana. Nah, jika kita zoom in ke membran sel, kita akan melihat:

Berdasarkan gambar di atas, penyusun utama membran sel adalah:

Itu apa ya? Kok bentuknya kayak ubur-ubur? Itu adalah molekul. Lebih tepatnya molekul lipid. Molekul ini punya sifat menarik, bagian yang bulet suka deket-deket dengan air, yang seperti kaki malah menjauhi air. Nah, karena isi dari sel itu mayoritas adalah air & sebuah sel biasanya juga berenang di air, secara alami molekul lipid ini bakal terusun seperti di atas. Istilah kasarnya, pantat-pantatan atau pungung-punggungan. Susunan pantat-pantatan ini bikin mereka jadi seperti kulit kan?

Konfigurasi lain yang mungkin dari lipid adalah seperti micelle di gambar di atas. Namun, kalau seperti itu, tentu tidak akan ada air di dalam micelle tersebut. Membran sel bisa dibilang seperti liposome di atas, karena bisa ada ruang di dalamnya. Tentu saja, ukuran sebuah sel jauh lebih besar dari liposome di atas.
Bagaimana dengan organ penyusun sel selain membran? Terbuat dari apa? Sama dengan membran sel, mereka juga tersusun dari berbagai macam molekul-molekul. Bukan hanya molekul lipid, tapi bisa juga molekul protein.
Bicara tentang molekul, air yang kita minum tiap hari itu juga termasuk molekul lho. Air adalah molekul sederhana, lipid lumayan kompleks, sementara protein (apalagi DNA) adalah molekul yang jauh lebih kompleks lagi.
Sel adalah unit kehidupan terkecil, yang tersusun dari molekul.
Apa sih ‘molekul’ itu?
Molekul adalah sekumpulan atom.

Mari kita mulai dari molekul yang sederhana: air. Bayangkan kamu punya setetes air di atas kaca. Lalu kamu bagi setetes air itu jadi dua bagian sama besar. Setengah tetes air itu kamu bagi lagi jadi seperempat. Seperempat tetes airnya juga sama, kamu bagi jadi seperdelapan. Begitu seterusnya. Apakah pembagian itu bisa tanpa henti dilakukan (selama-lamanya)? Atau pada satu titik harus berhenti, karena air-nya tidak bisa dibagi lagi?
Ternyata, harus berhenti (lebih tepatnya di pembagian ke-64 atau ke-65). Pembagiannya berhenti saat yang tersisa adalah unit terkecil dari air, yaitu:

Satu molekul air adalah satu atom oksigen yang terikat dengan dua atom hidrogen. Jika kita belah lagi si satu molekul air ini, hilang sudah airnya. Yang kita punya tinggal tiga atom (satu atom oksigen & dua atom hidrogen) yang:
- tidak saling terikat,
- tidak lagi memiliki sifat-sifat air,
- bisa diikat dengan atom atau molekul lain untuk menghasilkan molekul selain air.
Ada 90-an jenis atom yang cukup stabil untuk tersedia di alam. Nah, hanya dengan oksigen & hidrogen saja, kita bisa membuat beberapa molekul (tidak cuma molekul air/H2O). Bagaimana dengan kombinasi 90-an atom-atom sisanya?

Tidak cuma dari atom, molekul sendiri bisa diikatkan dengan molekul lain untuk membuat molekul baru. Di bawah adalah ilustrasi molekul asam amino glisin (C2H5NO2), yang tersusun dari atom hidrogen, nitrogen, karbon, & oksigen. Glisin sendiri, hanya salah satu dari 20 molekul asam amino yang menyusun protein di tubuh kita. Ada puluhan ribu kombinasi protein yang membuat sel jadi bisa melakukan hal-hal keren seperti bernapas, berkomunikasi, dan berkembang biak. Karena sel-selnya keren, kita jadi manusia yang juga keren.

Semua kekerenan itu bermula dari terikatnya atom-atom.
Memang, bagaimana sih dua (atau lebih) atom bisa saling terikat? Pertanyaan yang bagus. Untuk menjawabnya, kita perlu memahami makna dari atom.
Apa sih ‘atom’ itu?
Atom adalah sepaket proton & neutron yang dilingkupi oleh elektron.
Karena kita sudah kenal hidrogen, mari kita lihat ilustrasi dari sebuah atom hidrogen.

Keberadaan neutron di atom hidrogen tidak wajib. Sedangkan proton wajib, karena proton memiliki muatan positif. Sementara elektron kecil yang melingkupi inti atom bermuatan negatif. Bayangkan sebuah magnet: kutub positif tarik menarik dengan kutub negatif. Perbedaan muatan ini yang menyebabkan elektron bisa stabil melingkupi inti atom.
Sekarang, mari kita lihat satu atom oksigen. Ilustrasinya ada di bawah ini.

Atom oksigen, seperti hidrogen, ternyata juga tersusun dari proton, neutron, & elektron. Perbedaannya ada di jumlah. Kalau hidrogen 1 proton, 1 neuron, & 1 elektron. Oksigen tersusun dari 8 proton, 8 neutron, & 8 elektron. Selain itu, oksigen memiliki dua cangkang elektron (tergambarkan di atas dengan garis), sementara hidrogen hanya satu.
Kembali ke pertanyaan awal, bagaimana dua atau lebih atom bisa terikat? Kuncinya ternyata ada di cangkang elektron & jumlah elektron di sana. Mari kita lihat ilustrasi molekul air di bawah ini.

Mereka bisa terikat karena, dengan berbagi elektron mereka bisa memaksimalkan jumlah elektron yang ada di cangkang terluar mereka. Menurut temuan-temuan di fisika quantum, cangkang level pertama (yang terdekat dengan inti sel) cenderung untuk diisi oleh 2 elektron. Sementara cangkang level kedua 8 elektron. Jika berdiri sendiri, hidrogen kekurangan 1 elektron untuk memenuhi cangkang terluar. Sementara oksigen kekurangan 2 elektron, karena cangkang terluarnya hanya terdapat 6 elektron.
Dengan terikat bersama, mereka (2 hidrogen & 1 oksigen) jadi lebih stabil. Terpisah, mereka akan jadi atom atau molekul yang bermuatan positif / negatif (biasa disebut ion). Ion-ion ini akan cenderung mencari ion lain untuk mencari kestabilan (terikat).
Timbul pertanyaan, kalau elektron dan inti atom bisa saling terikat karena muatan yang bertolak belakang, apa yang menyebabkan proton & neutron bisa nempel? Sepertinya mereka tidak berbeda muatan? Kenapa bisa ada proton, neutron, & elektron?
Sabar ya, sebentar lagi ada informasi ilmiah yang agak panjang, tapi penting…
Apa sih ‘proton, neutron, & elektron’ itu?
Baik proton maupun neutron sama-sama terdiri dari tiga quark yang terikat karena bertukar gluon.
Namun, konfigurasi tiga quark proton & neutron berbeda. Proton dibentuk dari dua u-quark & satu d-quark. Sedangkan neutron itu kebalikannya, dibentuk dari dua d-quark & satu u-quark. Satu u-quark bermuatan 2/3, sedengan satu d-quark -1/3. Perbedaan muatan u-quark & d-quark menyebabkan proton bermuatan positif (1) & neutron tidak bermuatan / netral (0).
Fakta di atas ini penting untuk menjelaskan kenapa inti atom (neutron & proton) bisa terikat meski muatannya tidak bertolak belakang (0 & 1, bukan -1 & 1). Singkatnya, quark-nya mereka ‘berkomunikasi’. Itu karena, quark dari neutron dan proton yang berdekatan (di inti atom) saling bereaksi satu sama lain (akibat perbedaan muatan u & d quark).

Semakin banyak inti atom (ingat oksigen yang 8 kali lebih berat dari hidrogen?), semakin sulit komunikasi dilakukan. Inilah kenapa Uranium (238 kali lebih berat dari hidrogen) yang dijadikan bom atom, bukan hidrogen atau helium. Karena semakin berat atom, semakin tidak stabil dia โ berbeda dengan gravitasi yang justru semakin kuat.


Quark & gluon sendiri adalah partikel elementer (belum ditemukan penyusunnya). Elektron & cahaya (photon) adalah juga partikel elementer.
Dengan sampainya kita di partikel yang belum ditemukan penyusunnya, artinya kita sudah sampai di ujung dari proses memahami “siapa / apa itu manusia?“. Perlu diingatkan kembali, bahwa yang dijabarkan di atas ini adalah murni fakta. Bukan lagi teori / pendapat. Sel bisa dilihat di mikroskop. Partikel elementer (quark & gluon) sendiri sudah dibuktikan keberadaannya di CERN.

Fiiuh… berikut status kita sekarang:
- Mencari ‘makna’:
Menjawab ‘siapa & apa kita‘ hanya dengan fakta.- Mencari pola dari dari fakta-fakta di atas โ yang semoga polanya mudah diterima oleh kebanyakan orang.
Setelah ini, mari kita maknai fakta dengan pola-pola.
Pola Keberadaan

Ada banyak pola-pola menarik lain yang tidak termasuk di infografik di atas. Berikut salah tiganya:
- Ingat penjelasan tentang quark (bahan penyusun neutron & proton)? Komunikasi antar quark dari neutron/proton yang bertetanggalah yang membuat neutron & proton saling menempel sebagai inti atom. Inilah kenapa makin berat inti atom, justru makin tidak stabil, karena komunikasi antar quark-nya jadi makin sulit. Pola ini serupa dengan manusia. Jumlah geng pertemanan (dan juga tim kecil yang efektif di kantor) jarang bisa mendekati 10 orang, alih-alih belasan orang. Ada batas atas jumlah alamiah agar komunikasi & hubungan intens antar manusia bisa efektif.
- Komunitas/negara di sana hanyalah salah satu contoh sesuatu yang lebih kompleks dari individu. Contoh lain adalah perusahaan. Perusahaan juga mengulangi banyak pola-pola sebelumnya: memproduksi sesuatu barang/jasa; berkolaborasi dengan partner/pelanggan; membuang limbah produksi; memonitor & memperbaiki berjalannya perusahaan; bangkrut/dibeli perusahaan lain. Dengan begini, seorang manusia mungkin adalah ‘keberadaan’ pertama yang bisa hidup di beberapa sistem yang lebih kompleks (keluarga, perusahaan, tetangga, negara) secara sekaligus.
- Belasan orang nenek moyang kita dulu bisa hidup sejahtera di hutan. Tidak perlu ada profesi. Semua bisa semua. Mirip seperti sebuah koloni sel bakteri. Sekarang kita hidup di desa & kota. Sudah ada pekerjaan. Kita jadi sepenuhnya tergantung satu sama lain. Mirip seperti sel-sel hewan & tumbuhan yang tidak lagi bisa hidup sendiri.
Pola-pola menarik lainnya akan rutin dipos di channel ini. Subscribe kalau ga mau ketinggalan.
Tujuan hidup (manusia) yang universal.
Kita Hanya Bagian dari Rangkaian
Seorang manusia itu kecil, tidak signifikan. Bukan karena tubuhnya yang kecil, tapi karena dia hanyalah salah satu bagian dari rangkaian meningkatnya kompleksitas benda:
Partikel-partikel subatomik โ atom โ molekul โ sel โ manusia โ komunitas/negara.
Buat seorang manusia, satu sel itu tidak signifikan. Dari sudut pandang sebuah negara, satu manusia bisa jadi sama tidak signifikannya. Presiden? Kalau tiba-tiba meninggal, ya tinggal diganti wakil. Negara menjelang krisis atau perpecahan? Hampir pasti penyebabnya sistemik, alias bukan semata-mata ulah jahat seorang atau beberapa komplotan manusia. Cuma ada di film, seorang atau beberapa orang yang secara independen bisa berdampak besar.
Kalau kamu setuju bahwa ‘atom itu kecil’, ‘sel itu kecil’, mungkin cepat atau lambat kamu harus setuju bahwa ‘manusia itu kecil’.
Tujuan Hidup Manusia Yang Tepat โ Menjaga dan Melanjutkan Rangkaian Keberadaan
Jangan salah baca judul di atas ya. Simbol implikasi (‘โ’) bukan berarti sama dengan (‘=’). Tujuan hidup manusia bukan ‘menjaga dan melanjutkan rangkaian keberadaan’. Sel-sel kita juga ga cukup cerdas kok, untuk menyadari bahwa mereka adalah bagian dari seorang manusia, boro-boro menyadari tentang rangkaian keberadaan.
Karena hubungannya implikasi, judul di atas bisa dibaca sebagai ‘apapun tujuan hidup manusia, dia harus terus menjaga dan melanjutkan rangkaian keberadaan’, atau ‘sebuah tujuan hidup manusia akan salah, jika dia malah merusak rangkaian keberadaan.’
Ada yang bertanya: Kenapa harus? Belagu banget yang nulis sampai ngatur-ngatur hidup saya & orang lain? Jawabannya bisa kita temukan dari poin-poin berikut:
- Rangkaian keberadaan adalah fakta ilmiah sekaligus fakta sejarah. Dia nyata; Sebuah kebenaran. Jangan-jangan, misalpun manusia punah, akan ada makhluk baru lain yang muncul dan mengisi posisi manusia saat ini.
- Kalau tiba-tiba quark, atom, & molekul yang ada di tubuh kita sengaja melanggar hukum alam (atau, pakai istilah kaum relijius, ‘stop menjalankan fitrah-Nya’), kita akan langsung menguap lenyap tanpa bekas. Hidup matinya kita ya bergantung dengan konsistensi mereka.
- Jika kita sakit, sudah pasti ada yang telah merusak keseimbangan alam hidup sel-sel di tubuh kita. Entah itu faktor internal atau eksternal. Nikmat sehat yang kita rasa sekarang, ya bergantung ke kondisi mereka.
- Gue ga mau hidup terisolasi di hutan. Ga ada abang nasi goreng tek-tek, tukang bangunan, tukang pijit, dll. Kenikmatan-kenikmatan hidup yang kita rasakan sekarang, ya bergantung ke kondisi manusia-manusia lain di sekitar kita. Infrastruktur seperti jalan, listrik, & internet aja tetap perlu dijaga oleh orang-orang yang profesional & terpercaya.
Menimbang poin-poin di atas, kira-kira egois ga gue, kalau gue cuma peduli sama kenikmatan pribadi gue? Kira-kira bakal dibenci kah gue sama masyarakat luas, kalau gue cuma peduli sama kenikmatan pribadi gue, keluarga gue, atau orang-orang terdekat gue?
Ternyata, masih sama kayak jaman gue dulu masih nenen ke nyokap, gue itu kecil dan bergantung sama orang-orang lain.
Jadi apa dong, tujuan hidup manusia?
Tujuan Hidup Manusia yang Tepat = Enak Bareng
Kenapa makhluk multisel seperti jamur, tumbuhan, hewan, manusia, bisa mendominasi bumi ini?
Ya bener emang… virus & bakteri belum punah. Namun, hidup mereka banyak bergantung ke makhluk multisel. Mayoritas dari mereka harus mati di inang, entah dibunuh oleh sel-sel imun inang atau ikut mati bersama matinya inang mereka.
Makhluk multisel bisa dominan karena sel-sel di badan mereka berkolaborasi. Mereka saling memenuhi kebutuhan satu sama lain. Sementara sel kanker, adalah sel yang meninggalkan kolaborasi tersebut. Mereka hanya fokus di makan & membelah diri sampai individu tempat mereka tinggal mati โ persis seperti virus & bakteri. Karena tidak berkolaborasi, sel kanker sudah selayaknya dibunuh atau dibuang secepat mungkin.
Makhluk multisel lebih besar & kuat, karena sel-sel mereka enak bareng.
—
Bedanya sel-nya makhluk multisel (eukariotik) dan sel makhluk unisel (prokariotik) salah satunya ada di membran molekul genetik mereka. Di dalam sebuah bakteri (prokariotik), molekul genetik mereka tercerai-berai. Di sel makhluk multisel, molekul genetik mereka terbungkus (punya membran).
Fakta ini membuat ilmuwan berteori, bahwa sel eukariotik pertama (nenek moyang semua makhluk multisel) adalah sebenarnya dua sel yang bergabung & saling bekerja sama! Faktanya, mitokondria (mesin penghasil energi di dalam sel hewan) itu punya molekul genetiknya sendiri. Sehingga ada kemungkinan, sel eukariotik pertama adalah sel yang memakan sebuah ‘bakteri mitokondria’ dan alih-alih mencernanya, ‘bakteri mitokondria’ tersebut dibiarkan hidup karena bermanfaat buat si sel eukariotik pertama ini. Lagi & lagi, enak bareng!
Sel eukariotik lebih dominan, karena organ-organ sel di dalam diri mereka mereka lebih enak bareng.
—
Kenapa umat manusia cenderung bertransformasi dari kelompok kecil pemburu…

…ke masyarakat perkotaan / perdesaan? Bukan sebaliknya?
Ya karena lebih enak hidup di kota / desa, akibat banyaknya spesialisasi profesi pembuat beragam barang / jasa. Masyarakat perkotaan / perdesaan juga lebih kuat dalam melindungi diri dari serangan kelompok lain.
Manusia di komunitas besar (perkotaan/perdesaan/negara) lebih dominan, karena orang-orang di dalamnya lebih enak bareng dibanding orang-orang di komunitas kecil.
—
Pemicu rangkaian keberadaan
(partikel-partikel subatomik โ atom โ molekul โ sel โ manusia โ komunitas/negara),
ternyata adalah sesederhana kecenderungan makhluk untuk ‘enak bareng’.
Itulah kenapa ‘enak bareng’ bagus jadi tujuan hidup kita manusia. Karena polanya sudah tidak bisa disangkal lagi. Lihat kanan, kiri, atas, bawah, zoom-in, zoom-out, kita akan selalu menemukan ‘enak bareng’.
Penutup & Tiga Sel yang Patut Ditiru
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Ayat penutup surat Al-Fatihah
Terus lebih kenali & cintai dirimu sendiri
Kata-kata bijak
Mari kita menjadi tiga analogi ini:
1. Sel Sehat: buka mata lebar-lebar atas kebiasaan hidup kita dan orang-orang sekitar
Kebiasaan adalah kegiatan yang berulang. Sebuah kegiatan kita ulang pastinya karena memberikan kenikmatan (kalau tidak enak, ya ngapain diulang?). Pertanyaannya:
- Apakah kebiasaan itu juga mengurangi kenikmatan hidup kita di masa depan?
- Apakah kebiasaaan itu mengurangi kenikmatan hidup orang lain, baik yang kita kenal, maupun yang tidak kita kenal?
- Apakah sempat terpikir untuk melarang anak kita mengikuti kebiasaan tersebut?
- Ini yang terpenting: Jika kebiasaan itu ditiru oleh hampir seluruh umat manusia, apakah level kenyamanan hidup kita di dunia ini akan berkurang?
Jika ada kebiasaan kita yang memberikan jawaban “iya” atas salah satu pertanyaan di atas (contoh: judi, narkoba, dll.), coba lanjut tanya lagi, “kenapa kita dulu memulai kebiasaan buruk itu?” Jika kita hanya meniru orang lain (orang tua atau teman nongkrong misalnya), tanya lagi, “kenapa dulu kita mau saja meniru mereka?” dan “kira-kira kenapa kebiasaan buruk itu bisa muncul di kehidupan mereka?” Intinya, gali sampai ke akar-akarnya…
…karena pengatahuan itu akan jadi fondasi kita dalam menghentikan kebiasaan buruk tersebut.
Berefleksi tentang kebiasaan buruk kita itu bagus; namun pertanyaan ini juga tidak kalah bagus, ‘akan seenak apa ya hidup saya, jika melakukan kebiasaan baik yang dia lalukan?’
Proses-proses refleksi ini memang tidak mudah. Kalau tidak hati-hati, bisa dipandang sedang mencari-cari kejelekan orang tua atau sahabat karib. Meski sulit, usaha & waktu yang dikorbankan tidak akan sia-sia. Karena kita jadi makin menyayangi diri sendiri, akibat makin pahamnya kita atas diri sendiri (baca: masa lalu) & dunia sekitar kita.
2. Sel yang Menyadari Tubuh: pahami bagaimana dunia bekerja menyulitkan kita sekaligus memberikan harapan.
Untuk ini, coba lihat dari atas (istilah lainnya, ambil sudut pandang helikopter).
Karena tidak sedikit kegundahan atau kesulitan hidup yang utama & pertamanya dipicu oleh pihak eksternal. Yang berikut ini hanya beberapa contoh:
- Peningkatan kesenjangan ekonomi. Di tahun 1960-an Amerika Serikat gagal menjaga kepercayaan dunia perihal disiplin mencetak uang perdagangan dunia (alias ‘mengkertaskan emas jadi dolar’). Akibatnya, mulai dari tahun 70-an sampai sekarang, suplai uang di seluruh negara-negara dunia meningkat secara eksponensial. Sehingga ekonomi jadi lebih rentan krismon serta kesenjangan kaya-miskin melebar & kecemburuan sosial membesar.
- Perlindungan kesehatan. Bagi orang menengah ke bawah, negara tempat dia terlahir akan berperan besar terhadap kenikmatan hidup mereka. Mereka terlahir di negara-negara skandinavia tidak perlu pusing karena apapun sakit mereka, berapapun besar biayanya, akan ditanggung pemerintah. Jauh berbeda dengan nasib kaum miskin di Amerika Serikat. Orang miskin di Indonesia sendiri malah lebih enak dengan adanya dengan BPJS Kesehatan (meskipun tentu belum sebagus di skandinavia).
- Harga rumah. Kenapa ya, rumah sekarang makin ga terjangkau, beda sama zaman orang tua atau kakek-nenek kita dulu? Silahkan baca jawaban rekan sebangsa terhadap pertanyaan tersebut, dari sudut pandang helikopter : ini, lalu juga ini (sekedar contoh).
Wah, warga sipil biasa mah bisa apa. Ini kan tugasnya pemerintah / komunitas dunia. Iya betul, tidak bisa langsung eksekusi solusi… tapi… menyadari akar masalah saja itu sudah menang banyak. Kenapa?
- Sama seperti langkah sebelumnya, melihat dari helikopter membuat kita lebih bisa berempati atas kesulitan yang kita rasakan sekarang. Bahwa, “hey, problem hidup ini bukan seluruhnya karena keegoisan saya atau orang-orang sekitar saya lho!”
- Makin paham kita dengan bagaimana dunia bekerja, makin banyak terbuka jalan-jalan untuk menyelamatkan diri. Satu contoh: ada orang-orang Indonesia yang di awal-awal krisis moneter 1997 sudah rutin menabung dolar Amerika. Itu karena mereka sadar akan melemahnya rupiah, kondisi ekonomi amerika yang membaik di tahun 93-94, dan beredarnya banyak uang panas di Indonesia akibat deregulasi ekonomi tahun 80-an. Alhasil, kekayaan mereka dalam bentuk dolar meningkat bisa sampai 7 kali lipat (harga 1 dolar dari Rp 2000 ke Rp 14500). Lumayan, buat pegangan di tengah kerusuhan & hiperinflasi.
- Suara juga bisa memicu solusi. Di era kecerdasan buatan (AI) & sosial media sekarang ini, pemerintah & oposisi sudah cerdas. Apa yang paling rakyat inginkan saat ini bisa dengan mudah mereka rangkum dari internet. Berhubung Indonesia masih menerapkan demokrasi, ada kemungkinan keluhan & harapan yang kita tulis di internet didengar & diperjuangkan pemerintah / oposisi yang mempertahankan / memperebutkan suara pemilih.
3. Sel yang Langsung Melawan Kanker Sejak Stadium Nol: karena diam berarti setuju.
Diam terhadap kebiasaan buruk orang lain berarti setuju. Sebagaimana dipenjaranya orang-orang yang sengaja membiarkan tindak kriminal.
Tentu bertindak atau bersuara di sini bukan berarti boleh tutup mata, lalu menyerang atau menceramahi orang lain seenak hati. Sekecil apapun kemungkinannya, manusia bisa berubah. Yang kita tentang adalah perbuatannya, bukan orangnya. Tegas, bukan berarti tidak bisa santun.
Jika ada yang membalas “Wah, kamu melanggar HAM dengan mengatur hidup saya sejauh itu”, jawab dengan “Maaf jika kamu merasa seperti itu. Di mata saya sekarang, saya menyampaikan ini karena peduli dengan HAM-nya cucu & cicit saya di masa depan, jika nanti mayoritas orang melakukan apa yang kamu lakukan sekarang.” Kemungkinan besar, dia tidak akan setuju. Tapi setidaknya, pintu dialog mulai terbuka.

—
Justru saat kita sadar kita kecil,
kita jadi bisa punya tujuan besar:
meneruskan yang mulai ada sejak alam semesta ini tercipta 13,7 miliar tahun yang lalu, sampai sekarang.
